Beranda Reportase Ada Apa Polri dengan Kasus Teror Novel Baswedan?

Ada Apa Polri dengan Kasus Teror Novel Baswedan?

80
0
BERBAGI

Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan tentu masih hangat di telinga. Peringatan 100 hari pasca aksi terror yang mengakibatkan kedua mata Novel teancam tidak bisa melihat sempurna pun digelar oleh beberapa pihak yang simpati terhadap aksi brutal tersebut, termasuk KPK dan keluarga. Lalu bagaimana perkembangan kasusnya setelah 100 hari terlewati? Merangkum dari beberapa sumber seperti kompas.com dan tempo.co.id serta beberapa sumber referensi lain, kami mencoba mengumpulkan perjalanan kasus ini ditangani.

Sejak 11 April sesaat setelah kedua mata Novel disiram tiba-tiba dengan air keras seusai salat subuh di Masjid Al Ihsan Kelapa Gading, Mabes Polri memeriksa TKP serta mengintrogasi orang-orang yang sekitar sebagai saksi. Setelah dilakukan empat kali pemeriksaan TKP, sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk penyiraman terhapus, beberapa orang yang dicurigai ditangkap untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut, namun mereka dilepaskan kembali setelah katanya tidak terlibat dan mempunyai alibi.

Total ada empat orang yang pernah ditangkap kemudian dilepaskan oleh Polri. Pertama, Mukhlis Ohorella dan Muhammad Hasan yang dicurigai karena tertangkap CCTV dan difoto oleh tetanga Novel berada di sekitar lokasi beberapa hari sebelum penyerangan terjadi. Kedua, Ahmad Lestahulu ditangkap, namun dilepas kembali karena lagi-lagi dianggap memiliki alibi. Selanjutnya, Miko Fanji Tirtayasa, seorang yang pernah terlibat dalam kasus penyidikan oleh KPK tentang kasus suap. Ia ditangkap karena dianggap memiliki potensi melakukan penyerangan dengan motif sakit hati dan beredar videonya pula yang viral dengan mengatakan ketidaksukaannya terhadapa Novel. Namun akhirnya Polri melepasnya juga karena dianggap alibinya kuat di hari kejadian. Sampai saat ini kasus itu stagnan hanya dengan penangkapan empat orang tercurigai yang dilepaskan kembali.

Banyak aktivis yang mempertanyakan kinerja dari Polri dalam menangani kasus ini. Menurut mereka dan termasuk Novel sendiri beranggapan bahwa sebenarnya ada banyak bukti yang dapat digunakan untuk memecahkan kasus. Sidik jari yang terhapus dari cangkir yang digunakan untuk menyiram air keras pun mestinya dapat ditelusuri kembali dengan bantuan teknologi saat ini. Seperti baru menangani kasus teror seperti ini saja. Sindir beberapa aktivis yang mempertanyakan Ada apa dengan Polri. Apakah Polri memang tidak berkemauan dalam mengungkap kasus ini?

Pada akhir Juni, pihak kepolisian mengaku sedang berusaha membuat sketsa wajah terduga pelaku yang dibuat berdasarkan kesaksian beberapa pihak yang berada di lokasi kejadian. Sebulan sudah berlalu setelahnya akhirnya titik terang mulai muncul, 31 Juli lalu Polri akhirnya mengatakan telah berhasil membuat sketsa pelaku terduga dengan bantuan teknologi yang mutakhir sampai bekerja sama dengan kepolisian Australia untuk membantu memecahkan kasus teror ini.

Dalam wawancara eksklusif bersama Mata Najwa, Novel mengaku dirinya yakin ada yang salah dengan pihak kepolisian yang mengusut kasusnya. Masa iya sih gak bisa? Katanya. Fakta-fakta yang mengarah kepada kasusnya itu sebenarnya pun ada, dan ia menyarankan untuk dibentuknya tim penyidik khusus untuk mengungkapkan kasus-kasunya tersebut. Bahkan Novel berani bertaruh kasusnya tidak akan dibuktikan dengan tuntas sampai akhir. Sebelumnya ia bersama dengan penyidik KPK lainnya juga sering menerima teror dan semacamnya untuk membuat pihak KPK takut dan berhenti melakukan penyidikan. Namun ia beranggapan semuanya itu sia-sia saja. KPK akan terus berjuang untuk negara.

 

Kita tunggu saja ada perkembangan apa lagi setelah ini.